Feeds:
Pos
Komentar

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ra.

Khotbah No 75 Dari Kitab Nahjul Balaghah: Tentang Khotbah dan Nasihat

Semoga Allah memberkati orang yang mendengarkan hikmah dan menahannya, bilamana ia diundang ke jalan yang benar ia mendekatinya; ia mengikuti seorang pemimpin (dengan memegang ikat pinggangnya) dan menemukan keselamatan, mempertahankan Allah di hadapan matanya, dan takut akan dosa-dosanya, berbuat amal dengan tulus, dan berbuat bajik, menerima perbendaharaan dari ganjaran Ilahi, menjauhi kemungkaran, bertujuan (baik) dan memetik ganjaran, melawan hawa nafsunya dan menolak harapan-harapan (palsu), menjadikan kesabaran sarana kepada keselamatannya dan takwa (sebagai) bekal bagi kematiannya, menunggang di jalan kehormatan dan bersiteguh pada jalan kebenaran, memanfaatkan waktunya dengan baik dan bergegas kepada tujuan dengan membawa bersamanya bekal amal (baik).

Tentang Tuduhan Mu’awiah

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ra.

Khotbah No 74 Dari Kitab Nahjul Balaghah:

Ketika ia mendengar bahwa Mu’awiah menyalahkannya membunuh ‘Utsman, ia berkata:

Pengetahuan Bani Umayyah tentang saya tidak menghalangi mereka menuduh saya, tidak pula terdahulunya saya (dalam menerima Islam) menjauhkan orang-orang jahil ini dari menyalahkan saya. Peringatan Allah lebih fasih dari lidah saya. Saya lawan orang-orang yang memutuskan hubungan dengan iman dan penentang mereka yang ragu-ragu. Ketidakpastian harus ditempatkan di hadapan Al-Qur’an, Kitab Allah (untuk penjernihan), dan manusia akan dibalasi menurut apa yang ada di dalam hati mereka.

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ra.

Khotbah No 73 Dari Kitab Nahjul Balaghah:

Ketika orang memutuskan untuk membaiat kepada ‘Utsman, Amirul Mukminin a.s. berkata:

Tentulah Anda telah mengetahui bahwa saya yang paling berhak dari semua orang lain atas kekhalifahan. Demi Allah, selama urusan kaum Muslim tinggal utuh dan tak ada kelaliman di dalamnya kecuali atas diri saya, saya akan berdiam diri sambil mencari ganjaran untuk itu (dari Allah) dan sambil menjauh dari tarikan-tarikan dan godaan-godaan yang Anda perebutkan.

Tentang Marwan ibn Hakam

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ra.

Khotbah No 72 Dari Kitab Nahjul Balaghah:

Amirul Mukminin a.s. berkata tentang Marwan di Bashrah. Ketika Marwan ditawan pada Hari Jamal, ia meminta kepada Hasan dan Husain untuk membelanya di hadapan Amirul Mukminin a.s. la pun dibebaskan. Pada waktu mereka berkata, “Ya Amirul Mukminin, ia ingin membaiat Anda,” ia a.s. berkata:

Apakah ia tidak membaiat saya setelah pembunuhan ‘Utsman? Sekarang saya tidak memerlukan baiatnya, karena baiatnya adalah dengan tangan seorang Yahudi. Apabila ia membaiat saya dengan tangannya, ia akan melanggarnya dalam waktu singkat. Ya, ia akan mencari kekuasaan secepatnya seperti seekor anjing menjilat hidungnya, dan keempat putranya juga akan berkuasa. Rakyat akan menghadapi hari-hari sulit melalui dia dan anak-anaknya.[1]

Lanjut Baca »

Salawat atas Nabi SAWW

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ra.

Khotbah No 71 Dari Kitab Nahjul Balaghah: Di sini Amirul Mukminin a.s. menjelaskan bagaimana mengucapkan salawat atas Nabi SAWW

Ya Allah, Tuhanku, Pembentang permukaan (bumi) dan Pemelihara (ke-utuhan) seluruh langit, Pencipta hati menurut fitrahnya, kirimkanlah kiranya salawat yang terbaik dan berkat yang terus berlipat ganda kepada Muhammad, hamba dan Nabi-Mu yang terakhir dari mereka yang mendahului(nya), dan pembuka bagi apa yang tertutup, pemaklum kebenaran dengan sebenarnya, penolak kekuatan-kekuatan batil dan penghancur serangan kesesatan. Karena beliau dibebani (tanggung jawab kenabian) maka beliau memikulnya atas perintah-Mu, maju kepada kehendak-Mu, tanpa mengendurkan langkah atau kelemahan tekad, mendengarkan wahyu-Mu, memelihara perjanjian-Mu, maju ke depan dalam menyebarkan perintah-perintah-Mu, sampai beliau menyalakan api bagi pencarinya dan menerangi jalan bagi yang meraba-raba dalam gelap.

Lanjut Baca »

Mengutuk Orang ‘Iraq

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ra.

Khotbah No 70 Dari Kitab Nahjul Balaghah: Dalam Mengutuk Orang ‘Iraq

Amma ba’du. Wahai rakyat ‘Iraq![1] Anda seperti perempuan hamil yang pada saat genap masa kehamilan melahirkan anak mati, dan suaminya juga mati, dan masa menjandanya panjang, dan hanya kerabat jauh yang mewariskannya. Demi Allah, saya tidak datang kepada Anda atas kemauan saya sendiri. Saya datang kepada Anda karena terpaksa oleh keadaan. Saya telah mengetahui bahwa Anda mengatakan ‘Ali berkata bohong. Semoga Allah memerangi Anda. Terhadap siapa saya berbohong? Apakah terhadap Allah? Bahkan saya adalah yang pertama beriman kepada-Nya. Apakah terhadap Nabi-Nya SAWW? Tetapi saya adalah orang pertama yang membenarkannya. Pastilah tidak. Demi Allah, itu suatu ungkapan yang Anda gagal menilainya, dan Anda tak mampu untuk itu. Celaka bagi Anda. Saya akan memberikan ukuran-ukuran ungkapan bagus ini, bebas dari segala biaya. Saya berhasrat kiranya ada wadah yang cukup baik untuk menampungnya.

“Dan sesungguhnya kamu akan mengetahuinya setelah beberapa waktu lagi.” (QS. 38:88)

Lanjut Baca »

Menjelang Kematian

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ra.

Khotbah No 69 Dari Kitab Nahjul Balaghah:

Dikatakan pada pagi hari ketika Amirul Mukminin a.s. diserang dengan pedang yang mematikan

Saya sedang duduk ketika tidur menyusuli saya. Saya melihat Rasulullah SAWW muncul di hadapan saya, lalu saya berkata, “Ya Rasulullah, betapa besar kebengkokan dan permusuhan yang harus saya hadapi dari manusia.” Rasulullah SAWW menjawab, “Mohonlah (kepada Allah) agar keburukan menimpa mereka.” Tetapi saya katakan, “Semoga Allah akan menggantikan mereka bagi saya dengan yang lebih baik, dan menggantikan saya bagi mereka dengan yang lebih buruk.”

Sayid Radhi mengatakan: al-Awad berarti kebengkokan, dan ladad berarti permusuhan, dan ini ungkapan yang sangat fasih.